Sebuah
pemberontakan yang dikenal dalam Bahasa Arab, yaitu Intifadhah, merupakan perjuangan
yang dilakukan oleh orang-orang Palestina untuk melawan penindasan yang dilakukan oleh bangsa Israel
yang dilakukan mulai dekade 1980-an. Tepatnya pada tanggal 9 Desember 1987 yang
merupakan hari dimana munculnya pertama kali sebuah perang perlawanan terhadap
Zionis Israel. Semuanya antara laki-laki, tua muda, dan sebagian perempuan yang
ada di Palestina membentuk suatu barisan. Gerakan iini muncul secara tiba-tiba,
serentak, agresif, universal, dengan kesadaran dan rasa protes, serta dengan
penuh keberanian. Gerakan
Intifadhah terbagi menjadi 2 tahap yaitu pada tahap pertama yang terjadi pada
tahun 1987-1994 yang dikenal dengan Intifadhah Al-Mubarok, dan pada tahap kedua
yaitu Intifadhah Al-Aqaqa yang terjadi antara September 2000 sampai Juni 2002.
Intifadah
ini terlahir dari kekejaman Zionis Israel dan provokasi terhadap rakyat
Palestina dan hal-hal yang dianggap rakyat Palestina tempat-tempat suci. Karena
ikatan kuat rakyat Palestina terhadap tempat-tempat suci ini, khususnya Mesjid
Aqsa, yang merupakan kiblat pertama Muslimin Palestina. Perjuangan Intifadhah
yang sangat keras ini dikaitkan dengan apa yang menjadi tujuan gerakan ini
didirikan pertama kali yaitu sebagai penggerak perlawanan rakyat Palestina
terhadap tentara Israel. Gerakan yang sebenarnya didasari atas agama Islam ini merupakan
perjuangan jihad rakyat Palestina, karena perjuangan ini bertujuan untuk
membebaskan diri dari penindasan Israel sekaligus smengembalikan kejayaan agama
Islam. Disisi lain gerakan ini untuk menambah pembuktian bahwa peran Intifadhah
dalam hal pencapaian kemerdekaan Palestina, karena adanya masalah
pengambilalihan daerah Palestina secara paksa oleh Israel.
Munculnya
gerakan Intifadhah pertama kali hanya bersenjatakan batu-batu yang dilempar
dengan alat seperti ketapel, karena orang-orang Palestina pada saat itu kurang
memiliki persenjataan yang canggih sehingga Intifadhah dekade 1980-an dikenal
juga dengan nama revolusi batu. Dan parahnya lagi tidak ada satupun negara
Islam tetangga yang membantu perjuangan Palestina ini. Berbeda dengan bangsa
Israel yang telah menggunakan persenjataan yang sangat canggih seperti peluru,
roket, dan rudal yang kebanyakan senjata-senjata itu disokong dari bangsa
barat, terutama dari negara Amerika Serikat. Israel didukung oleh kolusi dan
persetujuan negara imperialis timur dan barat. Dia diciptakan untuk menindas
dan mengekploitasi kaum muslim, dan sekarang dia didukung oleh seluruh
imperialis. Inggris dan Amerika Serikat dengan memperkuat Israel secara militer
dan politik serta menyuplainya dengan senjata-senjata mematikan, mendorong
Israel untuk melakukan agresi terus menerus atas bangsa Arab dan kaum Muslim
dan untuk melamjutkan pendudukan atas Palestina dan tanah-tanah Islam lainnya.[1] Mereka
pun mampu membunuh ribuan anak-anak Palestina dengan cara yang tidak
berperikemanusiaan. Namun dalam kitab suci mereka yang tercatat kisah Nabi Daud
as yang membunuh raja Jalut yang kejam hanya dengan menggunakan senjata batu, dan itu merupakan salah satu
hal yang ditakuti oleh Israel.
Tentara
Israel yang menjadikan warga sipil dan anak-anak sebagai sasaran, tidak ragu
menembak bahkan anak-anak yang sedang bermain di tempat bermain sekolah. Karena
jam malam yang diberlakukan oleh Israel, dalam tahun itu mereka lebih sering
tidak pergi ke sekolah. Ketika mereka bisa bersekolah, mereka menjadi sasaran
serangan Israel. Banyak dari orang-orang Palestina menjadi korban keganasan
tentara Israel secara kejam, pembunuhan secara brutal terutama pada anak-anak
seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang ditembak mati. Selain itu
pemukim Yahudi yang dilengkapi senjata-senjata canggih menyerang desa-desa
Palestina, banyak masyarakat sipil Palestina menjadi sasaran tembak tentara
Israel. Dengan terbunuhnya orang-orang Palestina maka dengan mudah tentara
Israel bisa menempati daerah barunya dan memperluas daerah kekuasaan.
Faktor Kebangkitan Gerakan Intifadhah
1.
Keberhasilan revolusi Islam di Iran.
Keberhasilan revolusi Islam di Iran yang
terjadi pada bulan Februari 1979 telah menghidupkan kembali kejayaan Islam.
Dengan adanya revolusi Iran ini dapat memberikan semangat rasa percaya diri
kepada bangsa Palestina dan menyadarkan bahwa mereka juga memiliki kemampuan
yang kuat untuk merebut kembali hak-hak mereka yang terampas. Selama ini Iran
yang dipandang sebagai saudara oleh bangsa Palestina dapat memberikan suatu
contoh keberhasilan dan bukti bahwa bangsa Iran dengan kekuatan Islamnya mampu
melawan dan menjatuhkan kekuasaan rezim Syah Pahlavi.
2.
Kezaliman dan kekejaman rezim Zionis Israel.
Gerakan Intifadhah merupakan respon
dari orang-orang Palestina terhadap tindakan semena-mena yang telah dilakukan
Israel. Kekejaman yang dilakukan Israel telah memberi dampak yang merugikan
bagi bangsa Palestina, seperti banyaknya rakyat Palestina yang tidak berdosa
menjadi korban penyiksaan dan pembunuhan, menjadi terlantar karena tempat
tinggal yang mereka tempati telah diambil paksa dan dihancurkan oleh tentara
Israel, menghancurkan perekonomian dan merusak sarana-sarana, dan masih banyak
penderitaan lainnya yang diderita bangsa Palestina. Hal tersebut merupakan
faktor penyebab berdirinya gerakan Intifadhah.
3.
Kekecewaan terhadap sikap para pemimpin dunia Arab.
Para pemimpin Arab yang tidak pernah
memprioritaskan masalah Palestina dalam agenda kerjanya menyebabkan kekecewaan
yang dirasakan oleh rakyat Palestina. Padahal para pemimpin Arab kebanyakan
beragama Islam yang notabene sama dengan apa yang menjadi agama penduduk
Palestina. Namun pada kenyataannya sangat berbeda, mereka lebih mementingkan
permasalahan lainnya, seperti isu perang Irak-Iran.
4.
Kegagalan faksi-faksi militer dan politik Palestina
untuk menyelamatkan negara mereka.
Setelah kekalahan Arab pada tahun
1967 banyak lembaga, organisasi dan kelompok gerilyawan militer dan politik
berdatangan di tempat pergolakan di Palestina. Namun pada akhir dekade 1970-an
kelompok-kelompok tersebut menganggap perlawanan dengan menggunakan senjata
tidak mampu mengalahkan Israel, dan akhirnya mereka menginginkan menempuh jalan
perjuangan dengan cara berdiplomasi. Seiring berjalannya waktu, ternyata dengan
cara politik ini tidak membuahkan hasil yang lebih baik, malah semakin
memperparah keadaan karena rasa pesimis dan keputus-asaan menyebabkan satu
persatu kelompok-kelompok itu meninggalkan wilayah Palestina, dan ada pula yang
berkhianat.
5.
Perjuangan gerakan Hezbollah di Lebanon
Gerakan Hezbollah Lebanon
yang kelahirannya berasal dari pemikiran pemimpin besar revolusi Islam Iran
Imam Khomeini, mampu memberikan perlawanan terhadap Israel. Para pejuang
Hezbulloh semasa pendudukan di Lebanon maupun setelah tentara Israel lari
meninggalkan wilayah itu telah memberikan memberikan semangat perjuangan pada
bangsa Palestina. Serangan yang dilancarkan bangsa Palestina banyak memiliki
kemiripan dengan serangan yang dilakukan oleh Hezbulloh, karena Hezbulloh
sendiri yang telah mengajarkan kepada orang-orang Palestina bagaimana cara
menghadapi Israel.
Pola Perjuangan Gerakan Intifadhah.[2]
1. Fase Pertama (1967-1987)
Fase ini
dikenal dengan fase pembentukan dan pembangunan basis masa yang tangguh dan
kokoh, salah satu caranya dengan pendirian yayasan dan lembaga pendidikan dan
sosial.
2. Fase Kedua (1987-1991)
Pada fase ini
sudah mulai pada tahap aktualisasi jihad sebenarnya melawan Israel, salah
satunya dengan dikorbankannya aksi Intifadah yaitu dengan pengerahan massa
untuk melakukan perlawanan sipil secara total dan terkoordinasi.
3. Fase Ketiga(1991-sekarang)
Pada fase
ini, Intifadah mulai digaungkan perjuangnya, melalui gerakan Hamas. Dimana pada
fase ini terbentuk basis massa yang kuat dan mendapatkan simpati dari
masyarakat luas Palestina.
Intifadhah 1
Sehari
sebelum Intifadhah pertama terjadi, sebuah truk militer Israel memasuki wilayah
Gaza tempat pengungsian orang-orang Palestina dengan tujuan yang tidak jelas,
kecuali menyerang orang-orang Palestina. Pada saat itu terbunuh 4 orang dan
bersamaan dengan itu orang-orang Yahudi pun dengan memaksa merebut Masjidil
Aqsa atau Yerusalem Timur. Pada tanggal 18 Desember tentara Israel memperparah
keadaan dengan membunuh 2 orang dan sedikitnya melukai 20 orang muslim yang
baru selesai shalat Jum’at. Tentara Israel itu melanjutkan kekejamannya
menyerbu Rumah Sakit Syifa dengan memukuli dokter-dokter dan perawatnya,
menyeret orang-orang Palestina yang sedang dirawat di rumah sakit itu.
Kebrutalan
usaha-usaha Israel untuk menekan Intifadhah semula dikemukakan oleh menteri
pertahanan Yitzhak Rabin pada 19 Januari 1988, dia menyiarkan kebijaksanaan
“Patah Tulang”. Dengan mengatakan bahwa Israel akan menggunakan “Kekerasan
Kekuatan dan Pukulan” untuk menekan pemberontakan.[3]
Sepanjang masa ini, perhatian dunia tertuju pada kasus anak-anak yang tempurung
kepalanya pecah dan tangan-tangan mereka dipatahkan oleh para tentara Israel.
Orang-orang Palestina, dari yang paling muda hingga yang paling tua, menentang
kekerasan militer Israel dan penindasan dengan senjata batu apa pun yang dapat
mereka temukan. Sebagai balasannya, tentara Israel secara besar-besaran
memberondongkan senjatanya: menyiksa, mematahkan tangan, dan menembaki lambung
dan kepala orang-orang dengan tembakan senapan. Israel telah membunuh, melukai,
memotong anggota badan, menyiksa, memnjarakan, atau mengusir berpuluh-puluh
ribu orang palestina dalam usaha untuk menekan pemberontakan Palestina. Ketika
pemberontakan itu mencapai tahun kelima pada akhir 1991, Pusat Informasi
Hak-hak Asasi Manusia Palestina di Yerusalemdan Chicago melaporkan statistik
kumulatif berikut ini : 994 pembunuhan atas orang-orang Palestina oleh pasukan
Israel, 119.300 orang terluka, 66 deportasi, 16.000 penahanan administratif,
94.830 aker penyitaan tanah, 2.074 penghancuran atau penyegelan rumah, 10.000
jam malam terus-menerus atas wilayah-wilayah dengan penduduk lebih dari 10.000
orang, dan 120.000 pencabutan pohon-pohon dari akarnya.[4]
Intifadah
rakyat Palestina yang dilakukan dengan senjata batu dan pentungan untuk melawan
tentara paling modern di dunia, berhasil menarik perhatian internasional pada
wilayah ini. Intifadhah Pertama dianggap selesai pada 13 September 1993, ketika
Perjanjian Oslo ditandantangani dalam sebuah upacara meriah di pekarangan
selatan Gedung Putih. PM Israel Yitzhak Rabin dan Ketua PLO (Palestine
Liberation Organisation) Yasser Arafat bersalaman disaksikan Presiden AS Bill
Clinton. Pasca Camp David Summit, masih ada upaya perdamaian melalui Beirut
Summit yang diprakarsai oleh Arab Peace Initiative, dan juga
proposal Peta Jalan atau Road Map for Peace yang diusulkan oleh Quartet
on Middle East yang terdiri dari AS, Rusia, PBB, dan Uni Eropa (UE). Dan
sama seperti upaya-upaya perdamaian sebelumnya, kedua pertemuan itu tidak
berhasil mendamaikan Palestina dan Israel.
Belum genap
tiga tahun, perjanjian itu sudah dianggap mati, ditandai kebijakan agresif
perdana menteri Israel yang waktu itu terpilih, Benyamin Netanyahu. Ketika
Perdana Menteri Ariel Sharon, menginjakkan kaki ke Masjidil Aqsa tahun 2000,
dunia menyaksikan Intifadhah Kedua meletus.
Intifadhah 2
Kekerasan
tentara Israel yang terus berlanjut di luar kendali pada bulan April 2001 dan
membawa Israel dan Palestina kembali bergejolak. Pada gerakan Intifadah yang
terakhir sampai dengan perjanjian perdamaian, orang yang ada di pusat kejadian
itu adalah Ariel Sharon, yang kemudian menjabat, dan masih menjadi perdana
menteri. Sharon dikenal oleh orang-orang Islam sebagai seorang politisi yang
gemar menggunakan kekerasan. Seluruh dunia mengenalnya karena pembantaian yang
telah dia lakukan atas orang-orang Palestina, perilakunya yang suka menghasut,
dan kata-kata kasarnya. Yang terbesar dari pembantaian-pembantaian itu terjadi
20 tahun yang lalu di kamp pengungsian Sabra dan Shatilla, menyusul serangan
Israel pada Juni 1982 ke Libanon. Dalam pembantaian ini, sekitar 2000 orang tak
berdaya dibunuh, mengalami siksaan hebat, dan dibakar hidup-hidup.
Sharon di
bawah kawalan 1200 orang polisi memasuki Mesjid al-Aqsa, suatu tempat yang suci
bagi Muslimin. Setiap orang termasuk para pemimpin Israel dan rakyat Israel
sepakat bahwa masuknya Sharon ke tempat suci ini, suatu perbuatan yang biasanya
terlarang bagi non-Muslim, tindakan ini merupakan sebuah provokasi yang
dirancang untuk mempertegang keadaan yang sudah memanas dan memperbesar
pertentangan. Penentuan waktunya sama pentingnya dengan tempat itu, karena pada
hari sebelumnya Ehud Barak telah mengumumkan bahwa Yerusalem mungkin dibagi dua
dan dimungkinkan perundingan dengan orang-orang Palestina.
Pada 28
September 2000, Intifadah Kedua dimulai dengan dipimpin oleh HAMAS. PNA sendiri
dalam pihak yang bertentangan dengan HAMAS. PNA lebih milih untuk berdialog
daripada berperang. Pada 26 Okt 2004, gigihnya perjuangan Intifadah II membuat
Israel kewalahan dan mengesahkan program penarikan mundur dari Jalur Gaza.
Pada, 11 Nov 2004 Yaser Arafat meninggal. Kepemimpinan di PLO digantikan oleh
Mahmoud Abbas.
September
2005 dimulai penarikan mundur tentara Israel dari Jalur Gaza. Inilah kemenangan
para pejuang Palestina setelah 38 tahun. Namun, Israel terus melancarkan
serangan dan teror ke Jalur Gaza. Selain itu, Israel mendirikan tembok-tembok
pembatas yang mengucilkan pemukiman Palestina dan memperlebar perumahan bagi
bangsa Yahudi. Seperti diketahui pada perbatasan Palestina dengan Mesir
dibangun sebuah tembok pembatas yang sangat tinggi diujung atasnya diberi
aliran listrik dan ditanam sangat dalam dibawah tanah yang mengakibatkan
orang-orang Palestina tidak bisa kemana-kemana meminta bantuan dari negara
Mesir. Rakyat Palestina yang tinggal di jalur Gaza merupakan penduduk yang
sangat menderita keadaannya, karena mereka mendapatkan serangan-serangan yang
dilancarkan tentara Israel, selain itu suplai bahan makanan yang mengalir ke
penduduk Palestina juga terhambat dengan dibangunnya tembok pembatas oleh Israel.
Gerakan
Intifadhah yang dilakukan dalam pembebasan daerahnya dari kekuasaan Israel
banyak mengalami hambatan. Hambatan-hambatan tersebut antara lain :
1. Faktor
negara tetangga Palestina
Hal ini terkait dengan faktor
sumber pendanaan dan suplai bagi kelangsungan hidup rakyat Palestina. Karena
seperti diketahui, negara-negara Arab disekitar Palestina memilih diam dan
tidak mebuka pintu perbatasan bagi penyuplai makanan. Mereka lebih mementingkan
kepentingan negaranya sendiri dan tidak ingin mencampuri urusan Palestina
dengan Israel.
2. Aspek
Eksternal Dunia Barat
-
Dukungan Amerika Serikat terhadap Israel
Kekuatan dan kebrutalan Israel yang dilakukan terhadap Palestina ternyata
dilatarbelakangi oleh faktor Kitab Suci perjanjian versi orang Yahudi Israel,
dimana salah satu isinya menyangkut penguasaan Tanah Arab tanpa orang Arab
sedikitpun. Selain itu juga fakta menunjukkan bahwa Amerika Serikat dalam
banyak kasus menunjukkan membabi buta memberi dukungan terhadap Israel. Tanpa
adanya reserve dan proses penyeleksian terhadap masalah dengan pandangan yang
lebih obyektif [5].
Senjata-senjata canggih yang dimiliki tentara Israel merupakan penyaluran
bantuan dari Amerika Serikat.
-
Veto resolusi PBB
Sejak perang 1967, tiap tahun dalam sidang PBB selalu saja ada resolusi
menekan dan ‘menghukum’ Israel. Tapi hampir semua resolusi tersebut rontok
sebelum ditetapkan karena di veto terlebih dahulu oleh Amerika Serikat walaupun
perbandingan suara yang ada sangat jauh.
-
Dukungan dana
Sejak awal kemerdekaan Israel 1948, hingga kini Amerika Serikat telah
menjadi sumber dan bagi Israel. Misalnya pada tahun 1990-an Israel menghadapi
krisis ekonomi dalam hal pengeluaran anggaran pertahanan dan militer, banyak
pihak yang membantunya selain Amerika serikat juaga banyak perusahaan swasta
yang ikut membantu.
Bagaimanapun
tindakannya, memilih cara dengan kekerasan tidak pernah memecahkan persoalan. Namun
gerakan-gerakan seperti gerakan Intifadhah yang dilakukan oleh bangsa Palestina
untuk melawan Israel merupakan suatu perjuangan yang sangat hebat pada waktu
itu, karena dengan persenjataan yang minim mampu memberikan perlawanan meskipun
akhirnya banyak terjadi korban dan kerugian yang dialami bangsa Palestina. Dan
kembali pada kenyataan penting yang harus dicamkan ketika merenungkan tanah
tempat gerakan Intifadhah terjadi. Pertama-tama, karena diperkuat oleh
keputusan PBB, tentara Israel menggunakan kekuatan yang sejalan dengan hukum
internasional, seharusnya dijauhi. Meskipun sudah diperkuat aturan, jika Israel
menuntut agar keberadaannya di tanah ini diterima, cara menunjukkannya tentu
bukan dengan membunuh orang-orang tak berdosa. Karena semua orang yang dapat
berfikir dingin pastilah sepakat jika salah bagi orang-orang Palestina memilih
kekerasan, maka pastilah juga salah bagi tentara-tentara Israel membunuh
mereka. Setiap negara memiliki hak membela diri dan melindungi dirinya, namun
apa yang telah terjadi di Palestina jauh dari sekedar membela diri.
[1] Sihbudi Riza, 2009. Imam Khomeini Palestina. Jakarta : Zahra
Publishing House Hal 71
[2] Ahmad
Fauz,1996. Gerakan Hamas dalam
Perjuangan Kemerdekaan Palestina. Jakarta: Studia Press. Hal 45-47
[3] Findley Paul, 2006. Diplomasi Munafik Zionis Israel. Bandung
: PT Mizan Pustaka Hal 123
[4] Ibid., Hal 122
[5]
Sidik
Jatmika. 2001. Gerakan Zionis
Berwajah Melayu. Yogyakarta: Wihda Press. hal.123.
Daftar Pustaka:
Sidik Jatmika, 2001. Gerakan Zionis
Berwajah Melayu. Yogyakarta: Wihda Press.
Findley Paul, 2006. Diplomasi Munafik Zionis Israel. Bandung
: PT Mizan Pustaka.
Sihbudi Riza, 2009. Imam Khomeini Palestina. Jakarta : Zahra
Publishing House.
Ahmad Fauz,1996. Gerakan Hamas
dalam Perjuangan Kemerdekaan Palestina. Jakarta: Studia Press.
0 komentar:
Posting Komentar