Pembahasan sejarah Hindu-Budha di Indonesia akrab
diawali dari kemunculan beberapa kerajaan di abad ke-5 M, antara lain: Kerajaan
Hindu di Kutei (Kalimantan) dengan rajanya Mulawarman, putra Aswawarman atau
cucu Kundung(ga). Di Jawa Barat muncul Kerajaan Hindu Tarumanegara dengan
rajanya Purnawarman. Pada masa itu, eksistensi pulau Jawa telah disebut
Ptolomeus (pengembara asal Alexandria – Yunani) dalam catatannya dengan sebutan
Yabadiou dan demikian pula dalam epik Ramayana eksistensinya dinyatakan dengan
sebutan Yawadwipa. Ptolomeus juga sempat menyebut tentang Barousai (merujuk
pada pantai barat Sumatera Utara; Sriwijaya). Fa-Hien (pengembara asal China)
dalam perjalanannya dari India singgah di Ye-po-ti (Jawa) yang menurutnya telah
banyak para brahmana (Hindu) tinggal di sana. Maka tidak berlebihan jika Lee
Kam Hing kemudian menyatakan bahwa lembaga-lembaga pendidikan telah ada di
Indonesia sejak periode permulaan. Pada masa itu, pendidikan lekat terkait
dengan agama.
Menurut catatan I-Ching, seorang peziarah dari China, ketika melewati Sumatera pada abad ke-7 M ia mendapati banyak sekali kuil-kuil Budha dimana di dalamnya berdiam para cendekiawan yang mengajarkan beragam ilmu. Kuil-kuil tersebut tidak saja menjadi pusat transmisi etika dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga seni dan ilmu pengetahuan. Lebih dari seribu biksu Budha yang tinggal di Sriwijaya itu dikatakan oleh I-Ching menyebarkan ajaran seperti yang juga dikembangkan sejawatnya di Madhyadesa (India). Bahkan, di antara para guru di Sriwijaya tersebut sangat terkenal dan mempunyai reputasi internasional, seperti Sakyakirti dan Dharmapala. Sementara dari pulau Jawa muncul nama Djnanabhadra. Pada masa itu, para peziarah Budha asal China yang hendak ke tanah suci India, dalam perjalanannya kerap singgah dulu di nusantara ini untuk melakukan studi pendahuluan dan persiapan lainnya.
Menurut catatan I-Ching, seorang peziarah dari China, ketika melewati Sumatera pada abad ke-7 M ia mendapati banyak sekali kuil-kuil Budha dimana di dalamnya berdiam para cendekiawan yang mengajarkan beragam ilmu. Kuil-kuil tersebut tidak saja menjadi pusat transmisi etika dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga seni dan ilmu pengetahuan. Lebih dari seribu biksu Budha yang tinggal di Sriwijaya itu dikatakan oleh I-Ching menyebarkan ajaran seperti yang juga dikembangkan sejawatnya di Madhyadesa (India). Bahkan, di antara para guru di Sriwijaya tersebut sangat terkenal dan mempunyai reputasi internasional, seperti Sakyakirti dan Dharmapala. Sementara dari pulau Jawa muncul nama Djnanabhadra. Pada masa itu, para peziarah Budha asal China yang hendak ke tanah suci India, dalam perjalanannya kerap singgah dulu di nusantara ini untuk melakukan studi pendahuluan dan persiapan lainnya.
Sejarah agama Hindu-Budha di Indonesia berbeda
dengan sejarahnya di India. Disini, kedua agama tersebut dapat tumbuh
berdampingan dan harmonis. Bahkan ada kecenderungan syncretism antara keduanya
dengan upaya memadukan figur Syiwa dan Budha sebagai satu sumber yang Maha
Tinggi. Sebagaimana tercermin dari satu bait syair Sotasoma karya Mpu Tantular
pada zaman Majapahit “Bhinneka Tunggal Ika”, yakni dewa-dewa yang ada dapat
dibedakan (bhinna), tetapi itu (ika) sejatinya adalah satu (tunggal). Sekalipun
demikian, patut diketahui sempat adanya sejarah konflik politik antar kerajaan
yang berbeda agama pada masa-masa permulaannya.
Pada masa Hindu-Budha ini, kaum Brahmana merupakan
golongan yang menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Perlu dicatat bahwa
sistem kasta tidaklah diterapkan di Indonesia setajam sebagaimana yang terjadi
di India. Adapun materi-materi pelajaran yang diberikan ketika itu antara lain:
teologi, bahasa dan sastra, ilmu-ilmu kemasyarakatan, ilmu-ilmu eksakta seperti
ilmu perbintangan, ilmu pasti, perhitungan waktu, seni bangunan, seni rupa dan
lain-lain. Pola pendidikannya mengambil model asrama khusus, dengan fasilitas
belajar seperti ruang diskusi dan seminar. Dalam perkembangannya, kebudayaan
Hindu-Budha membaur dengan unsur-unsur asli Indonesia dan memberi ciri-ciri
serta coraknya yang khas. Sekalipun nanti Majapahit sebagai kerajaan Hindu
terakhir runtuh pada abad ke-15, tetapi ilmu pengetahuannya tetap berkembang
khususnya di bidang bahasa dan sastra, ilmu pemerintahan, tata negara dan
hukum. Beberapa karya intelektual yang sempat lahir pada zaman ini antara lain:
Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa (Kediri, 1019), Bharata Yudha karya Mpu Sedah
(Kediri, 1157), Hariwangsa karya Mpu Panuluh (Kediri, 1125), Gatotkacasraya
karya Mpu Panuluh, Smaradhahana karya Mpu Dharmaja (Kediri, 1125), Negara
Kertagama karya Mpu Prapanca (Majapahit, 1331-1389), Arjunawijaya karya Mpu
Tantular (Majapahit, ibid), Sotasoma karya Mpu Tantular, dan Pararaton (Epik
sejak berdirinya Kediri hingga Majapahit).
Menjelang periode akhir tersebut, pola pendidikan
tidak lagi dilakukan dalam kompleks yang bersifat kolosal, tetapi oleh para
guru di padepokan-padepokan dengan jumlah murid relatif terbatas dan bobot
materi ajar yang bersifat spiritual religius. Para murid disini sembari belajar
juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Jadi
secara umum dapatlah disimpulkan bahwa:
1. Pengelola
pendidikan adalah kaum brahmana dari tingkat dasar sampai dengan tingkat tinggi.
2. Bersifat
tidak formal, dimana murid dapat berpindah dari satu guru ke guru yang lain.
3. Kaum
bangsawan biasanya mengundang guru untuk mengajar anak-anaknya di istana disamping ada juga yang mengutus anak-anaknya yang
pergi belajar ke guru-guru tertentu.
4. Pendidikan
kejuruan atau keterampilan dilakukan secara turun-temurun melalui jalur
kastanya masing-masing.
0 komentar:
Posting Komentar